Badan Geologi memaparkan sejumlah faktor yang memicu terjadinya longsor di wilayah Cisarua. Kawasan ini secara geologis memang tergolong rawan pergerakan tanah karena berada di daerah perbukitan dengan kemiringan lereng yang cukup curam. Kondisi tersebut membuat tanah mudah mengalami pelapukan dan kehilangan kestabilan.
Curah hujan tinggi dalam beberapa waktu terakhir menjadi pemicu utama longsor. Air hujan yang meresap ke dalam tanah meningkatkan tekanan pori dan mengurangi daya ikat antarpartikel tanah. Akibatnya, lereng menjadi jenuh air dan rentan mengalami pergeseran, terutama pada lapisan tanah yang sudah lapuk.
Selain faktor alam, Badan Geologi juga menyoroti pengaruh aktivitas manusia. Perubahan tata guna lahan, seperti pembangunan di lereng tanpa perhitungan geoteknik yang memadai, dapat memperbesar risiko longsor. Penebangan vegetasi juga mengurangi peran akar tanaman dalam menahan struktur tanah.
Struktur tanah di Cisarua yang didominasi material lepas dan hasil pelapukan batuan vulkanik turut memperparah kondisi. Jenis tanah ini memiliki daya ikat rendah ketika basah, sehingga mudah bergerak saat menerima beban tambahan atau getaran, termasuk dari aktivitas kendaraan dan konstruksi.
Badan Geologi mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang. Upaya mitigasi seperti penguatan lereng, perbaikan drainase, serta pengendalian pembangunan di zona rawan dinilai penting untuk menekan risiko longsor berulang.
Share to:
Related Article
-
Biodata dan Profil Septia Yetri Opani: Umur, Agama dan Akun Istagram, Istri Putra Siregar Tegur Chandrika Chika
Update|April 26, 2022 23:10:20
