Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin masif dinilai membawa dampak besar terhadap industri media dan praktik jurnalistik. Teknologi ini tidak hanya mengubah cara kerja redaksi, tetapi juga memengaruhi pola konsumsi informasi di masyarakat. Di tengah kemudahan produksi konten, tantangan menjaga kualitas dan akurasi berita menjadi semakin kompleks.
Menteri Komunikasi dan Digital menyoroti bahwa pemanfaatan AI tanpa kendali berpotensi mengancam keberlanjutan media dan peran jurnalis. Otomatisasi produksi konten, jika tidak diimbangi dengan etika dan verifikasi yang ketat, dapat menggerus nilai-nilai dasar jurnalistik. Risiko penyebaran informasi keliru dan manipulatif pun semakin besar.
Selain soal kualitas konten, kehadiran AI juga memicu kekhawatiran terkait keberlangsungan profesi jurnalis. Penggunaan teknologi secara berlebihan dikhawatirkan menggeser peran manusia dalam proses editorial. Oleh karena itu, jurnalis dituntut untuk meningkatkan kapasitas dan keahlian agar tetap relevan di era digital yang terus berkembang.
Pemerintah menilai perlu adanya keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan terhadap ekosistem media. Penguatan regulasi, literasi digital, serta penerapan standar etika menjadi langkah penting agar AI dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku media, dan komunitas teknologi dinilai krusial untuk menciptakan ruang informasi yang sehat.
Di tengah tantangan tersebut, AI sejatinya juga dapat menjadi peluang bagi media untuk meningkatkan kualitas kerja jurnalistik. Dengan pendekatan yang tepat, teknologi dapat digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti, dalam proses peliputan dan analisis. Ke depan, integritas dan profesionalisme jurnalis tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan publik dan demokrasi.
Share to:
Related Article
-
7 Meme Paskibra Agustusan Ini Bikin Kangen Jaman Dulu, Gen 90-2000 Pasti Relate Nih
Update|August 17, 2020 04:00:00
