Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hilal belum dapat terlihat pada sore hari ini berdasarkan hasil perhitungan astronomi terkini. Posisi bulan yang masih sangat rendah di atas ufuk menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi potensi keterlihatannya. Kondisi ini membuat hilal sulit diamati, baik dengan mata telanjang maupun menggunakan alat bantu optik.
Secara astronomis, visibilitas hilal dipengaruhi oleh beberapa parameter penting, seperti ketinggian bulan, jarak sudut bulan dengan matahari (elongasi), serta umur bulan setelah terjadinya ijtimak atau konjungsi. Jika kriteria minimum tersebut belum terpenuhi, maka kemungkinan hilal untuk teramati akan sangat kecil. Dalam kondisi tertentu, cahaya senja yang masih cukup terang juga dapat menghambat proses pengamatan.
Selain faktor posisi dan sudut elongasi, kondisi cuaca turut berperan dalam menentukan keberhasilan rukyat. Tutupan awan, kelembapan udara, hingga partikel debu di atmosfer dapat mengurangi kontras cahaya hilal yang tipis. Oleh karena itu, meskipun secara perhitungan astronomi hilal sudah berada di atas ufuk, belum tentu hilal dapat terlihat secara visual.
BMKG menegaskan bahwa prediksi ini didasarkan pada data hisab dan pemodelan astronomi yang akurat. Hasil pengamatan lapangan tetap menjadi bagian penting dalam proses penentuan awal bulan dalam kalender hijriah. Sinergi antara metode hisab dan rukyat terus dilakukan untuk memastikan ketepatan informasi yang disampaikan kepada masyarakat.
Masyarakat diimbau untuk menunggu hasil sidang isbat yang akan mempertimbangkan laporan pengamatan dari berbagai titik di Indonesia. Keputusan resmi mengenai penetapan awal bulan akan diumumkan setelah seluruh data dan laporan diverifikasi secara menyeluruh.