Sejumlah wilayah di Indonesia diperkirakan akan mengalami hujan dengan intensitas lebat pada awal Ramadan. Kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang masih cukup aktif, termasuk kelembapan udara yang tinggi dan pergerakan angin yang mendukung pembentukan awan hujan. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem saat memasuki awal bulan puasa.
Secara meteorologis, hujan lebat umumnya terjadi akibat pertumbuhan awan konvektif yang signifikan, terutama pada siang hingga malam hari. Peralihan musim serta suhu permukaan laut yang relatif hangat juga dapat memperkuat pembentukan awan hujan. Beberapa daerah bahkan berpotensi mengalami hujan disertai kilat dan angin kencang dalam durasi singkat.
Kondisi cuaca tersebut dapat berdampak pada aktivitas masyarakat, khususnya menjelang waktu berbuka puasa dan pelaksanaan ibadah tarawih. Genangan air hingga potensi banjir di wilayah rawan menjadi hal yang perlu diantisipasi. Pengguna jalan juga diminta lebih berhati-hati karena jarak pandang dapat berkurang saat hujan deras turun.
Selain itu, masyarakat yang berencana melakukan perjalanan mudik awal atau kegiatan luar ruangan selama Ramadan disarankan untuk memantau perkembangan prakiraan cuaca secara berkala. Persiapan seperti membawa perlengkapan hujan dan memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan baik menjadi langkah antisipatif yang penting.
Meski demikian, hujan lebat tidak selalu terjadi sepanjang hari dan dapat bersifat lokal. Dengan kesiapsiagaan dan informasi yang memadai, masyarakat diharapkan tetap dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan nyaman dan aman meskipun kondisi cuaca kurang bersahabat.