Shudu merupakan salah satu influencer virtual paling dikenal di dunia. Ia adalah model digital berbasis CGI (computer-generated imagery) yang diciptakan menggunakan teknologi grafis komputer dengan tampilan yang sangat realistis. Kehadirannya memicu perhatian publik karena secara visual sulit dibedakan dari model manusia asli.
Shudu pertama kali mencuri perhatian industri fashion global melalui unggahan foto-foto bergaya editorial di media sosial. Dengan visual yang detail dan estetika yang kuat, ia berhasil menarik minat berbagai merek ternama. Hal ini menandai babak baru dalam strategi pemasaran digital, di mana karakter virtual mulai dilibatkan dalam kampanye komersial.
Fenomena Shudu menunjukkan bahwa teknologi AI dan CGI tidak lagi sekadar alat bantu produksi visual, melainkan telah menjadi representasi figur publik itu sendiri. Berbeda dengan model konvensional, karakter virtual seperti Shudu dapat dikontrol sepenuhnya oleh tim kreatif, mulai dari ekspresi, gaya busana, hingga konsep pemotretan tanpa batasan fisik.
Di sisi bisnis, penggunaan influencer CGI menawarkan efisiensi biaya dan fleksibilitas tinggi bagi brand. Tidak ada jadwal padat, risiko cedera, atau kendala logistik seperti perjalanan dan lokasi pemotretan. Seluruh proses produksi dapat dilakukan secara digital, memungkinkan kampanye dirancang dengan lebih cepat dan terukur.
Namun, kehadiran Shudu juga memunculkan diskusi etis dan sosial. Sejumlah pihak mempertanyakan dampaknya terhadap peluang kerja model manusia serta isu representasi dan autentisitas di media sosial. Terlepas dari perdebatan tersebut, Shudu menjadi simbol transformasi industri kreatif di era teknologi, di mana batas antara realitas dan digital semakin kabur.