Industri drama pendek China atau yang dikenal dengan sebutan “dracin” kini memasuki era baru dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Jika sebelumnya produksi serial membutuhkan proses syuting panjang dengan banyak kru dan aktor, kini sebagian besar proses tersebut mulai digantikan oleh mesin AI generatif.
Salah satu contohnya terlihat dari serial drama pendek berjudul Carrying the Dragon King’s Baby yang seluruh adegannya dibuat menggunakan AI. Mulai dari karakter, visual, hingga efek dramatis dihasilkan tanpa melibatkan aktor sungguhan maupun tim produksi konvensional.
Popularitas drama pendek di China sendiri terus meningkat karena formatnya yang singkat dan mudah dinikmati lewat smartphone. Dalam durasi hanya satu hingga dua menit per episode, penonton disuguhkan cerita penuh konflik, romansa, dan plot twist yang membuat penasaran.
Teknologi AI kemudian dimanfaatkan untuk mempercepat produksi sekaligus menekan biaya. Jika sebelumnya satu serial membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk selesai, kini prosesnya bisa dipangkas menjadi kurang dari satu bulan dengan biaya jauh lebih murah.
Bahkan, beberapa platform drama dilaporkan sudah sepenuhnya meninggalkan proses syuting tradisional dan beralih total ke produksi berbasis AI. Hal ini membuat kebutuhan kru kamera, penata cahaya, hingga makeup artist mulai berkurang drastis.
Meski dianggap lebih efisien, kehadiran AI juga memunculkan kekhawatiran baru bagi pekerja kreatif, terutama penulis naskah dan kru produksi. Banyak di antara mereka kini harus beradaptasi dengan sistem kerja baru yang mengharuskan naskah dibuat lebih detail agar mudah dipahami oleh AI.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi mulai mengubah wajah industri hiburan global. Di satu sisi AI membuat produksi lebih cepat dan murah, namun di sisi lain juga memicu tantangan besar bagi tenaga kerja kreatif manusia.
Share to:
Related Article
-
Buat Kamu Siswa SD, Ini Soal dan Kunci Jawaban Belajar dari Rumah TVRI Kamis 14 Mei 2020
Update|May 14, 2020 17:00:00
