Sejumlah pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan prediksi mengenai waktu perayaan Idul Fitri 2026 di Indonesia. Berdasarkan perhitungan astronomi terhadap posisi hilal dan fase bulan, Idul Fitri diperkirakan jatuh pada awal April 2026. Namun demikian, potensi perbedaan dalam penetapan hari raya tetap masih terbuka.
Perbedaan tersebut dapat terjadi karena metode penentuan awal bulan Hijriah yang digunakan oleh berbagai organisasi keagamaan. Sebagian pihak menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomi, sementara lainnya mengombinasikannya dengan metode rukyat atau pengamatan langsung hilal.
Menurut para peneliti, posisi hilal pada akhir Ramadan 1447 Hijriah diperkirakan berada pada kondisi yang cukup kritis di beberapa wilayah. Artinya, di sejumlah lokasi hilal mungkin dapat terlihat, sementara di wilayah lain kemungkinan masih sulit diamati karena faktor ketinggian bulan dan kondisi atmosfer.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang sering memunculkan perbedaan penetapan hari raya antara sejumlah kelompok masyarakat. Meski demikian, pemerintah biasanya akan menetapkan secara resmi tanggal Idul Fitri melalui sidang isbat setelah mempertimbangkan hasil perhitungan dan laporan pengamatan hilal dari berbagai daerah.
Para pakar juga mengimbau masyarakat untuk menyikapi potensi perbedaan tersebut secara bijak. Perbedaan dalam penentuan awal bulan Hijriah merupakan hal yang telah lama terjadi dan menjadi bagian dari dinamika penetapan kalender Islam di berbagai negara, termasuk Indonesia.