Sidang isbat untuk menentukan awal Syawal dijadwalkan digelar sore ini oleh pemerintah. Penetapan ini menjadi momen penting karena akan menentukan kapan umat Muslim di Indonesia merayakan Idul Fitri. Seperti tahun-tahun sebelumnya, hasil sidang isbat akan didasarkan pada pemantauan hilal serta perhitungan astronomi.
Sejumlah lembaga seperti BMKG dan BRIN telah lebih dulu merilis prediksi terkait kemungkinan jatuhnya Hari Raya Idul Fitri. Berdasarkan analisis yang dilakukan, posisi hilal pada saat pengamatan masih berada di batas kriteria tertentu, sehingga memunculkan potensi perbedaan penetapan antara Jumat atau Sabtu.
BMKG menyampaikan bahwa kondisi atmosfer dan posisi bulan menunjukkan peluang visibilitas hilal yang terbatas di beberapa wilayah. Hal ini membuat kemungkinan hilal tidak terlihat secara merata di seluruh Indonesia, sehingga keputusan akhir tetap menunggu hasil rukyat yang dilakukan di berbagai titik pemantauan.
Sementara itu, BRIN melalui kajian astronominya juga melihat adanya peluang perbedaan awal Syawal. Perhitungan yang dilakukan menunjukkan bahwa kriteria visibilitas hilal belum sepenuhnya terpenuhi, yang membuka kemungkinan Lebaran jatuh sehari setelahnya jika hilal tidak berhasil diamati.
Dengan berbagai prediksi tersebut, masyarakat diimbau untuk menunggu pengumuman resmi pemerintah setelah sidang isbat selesai digelar. Apapun hasilnya, diharapkan perbedaan yang mungkin terjadi dapat disikapi dengan bijak, serta tetap menjaga suasana kebersamaan dalam merayakan Idul Fitri.