Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat tidak hanya mengubah dunia teknologi, tetapi juga memengaruhi cara seniman berkarya.
Menyikapi fenomena tersebut, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menghadirkan pameran internasional bertajuk Post-machine Algorithm yang menyoroti hubungan antara kreativitas manusia dan teknologi di era digital.
Pameran yang berlangsung di Galeri RJ Katamsi ini menghadirkan ratusan karya dari berbagai bidang seni, mulai dari seni rupa, kriya, desain, hingga karya audio visual.
Melalui karya-karya tersebut, para seniman diajak untuk mengeksplorasi bagaimana manusia tetap memegang peran utama dalam proses kreatif meski teknologi semakin berkembang.
Pihak ISI Yogyakarta menilai bahwa AI dapat menjadi alat yang membantu proses penciptaan karya, namun sumber ide, intuisi, dan imajinasi tetap berasal dari manusia.
Karena itu, pameran ini sekaligus menjadi ajang untuk menunjukkan bahwa kreativitas manusia masih memiliki nilai yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh mesin.
Menariknya, pameran ini melibatkan 167 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, alumni, hingga seniman mancanegara.
Sejumlah peserta berasal dari berbagai negara seperti Jepang, Thailand, Malaysia, dan Australia, menambah warna internasional dalam gelaran tersebut.
Selain menjadi ruang apresiasi seni, pameran ini juga menunjukkan bagaimana dunia pendidikan seni mulai beradaptasi dengan perkembangan AI.
Teknologi tersebut kini dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam proses pencarian ide dan eksplorasi konsep, tanpa menghilangkan peran manusia sebagai pengarah utama.
Melalui Post-machine Algorithm, ISI Yogyakarta ingin membuka diskusi yang lebih luas mengenai masa depan seni di tengah kemajuan teknologi.
Pameran ini menegaskan bahwa meski AI semakin canggih, sentuhan pengalaman, emosi, dan kreativitas manusia tetap menjadi unsur yang tidak tergantikan dalam sebuah karya seni.
Share to:
Related Article
-
5 Seniman Dunia yang Sukses Tanpa Pernah Sekolah Seni
Update|January 22, 2026 16:06:48
