Ulus Pirmawan dan 5 Pengusaha Ini Sukses Jadi Jutawan Go Internasional Tanpa Merantau Lho

Ulus Pirmawan dan 5 Pengusaha Ini Sukses Jadi Jutawan Go Internasional Tanpa Merantau Lho

Foto

Foto: Istimewa


Banyak orang rela merantau ke kota karena anggapan yang mengatakan bahwa tidak ada harapan di desa. Banyak orang berangapan bahwa di desa hanya bisa berkebun dan bertani.

Padalah, di desa terdapat sangat banyak subner daya alam yang masih asri dan bersih dari polusi. Seseorang bisa memanfaatkan SDA di desa sambil meberdayakan orang-orang di kampung halaman untuk menciptakan lapangan pekerjaan.

Inilah yang dilakukan oleh 5 pengusaha yang berhasil membawa kampung halamannya menjadi dikenal keberbagai kota hingga ke luar negri.

Gak perlu merantau untuk menjadi pengusaha sukses, yuk intip kisah inspiratif pengusaha desa yang sukses go internasional berikut ini!

1. Ulus Pirmawan

(Foto: Twitter Kick Andy)

Ulus Pirmawan dikenal sebagai petani yang sukses menjadi pengusaha dengan hanya lulusan Sekolah Dasar gaes.

Pria beusia 46 tahun ini berasal dari Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Kedua orangtuanya yang juga petani ini membentuk Ulus menjadi sosok petani hebat yang mampu meningkatkan daya saing industri pertanian. Turun keladang sejak kecil, Ulus paham betul bagaimana cara menanam tomat dan kentang. 

Kini, dia bahkan bisa secara rutin melakukan ekspor produk hasil taninya hingga ke Singapura gaes! 

2. Zukri

(Foto: Tokopedia)

Zukri adalah pengusaha jahe istan  khas tanah kelahirannya, Makassar. Setiap bulannya, volume produksi Sukma Jahe bisa mencapai 25.000 sachet lho.

Meski gak dijual di gerai-gerai supermarket atau minimarket, penjualan produknya relatif cepat meski hanya mengandalkan agen di berbagai daerah. Gak puas dengan usahanya tersebut, Zukri juga sukses mengelola perusahaan penyedia jasa training management outbond. 

Kisahnya sunguh mengispirasi lantaran dia gak berasal dari sebuah keluarga pengusaha dan berhasil mengembangkan resep minuman tradisional jahe asli Makassar, Sukma Jahe bisa diterima masyarakat dengan baik.

3. Aang Permana

(Foto: KickAndyShow)

Aang Permana adalah alumni fakultas Perikanan dan Kelautan IPB. Berhasal ari keluarga sederhana, Aang berhasil mengembangkan potensi di daerahnya. 

Dilanisr dari 4muda, Aang melihat di waduk atau bendungan Cirata terdapat jenis ikan yang sudah sekian lama dianggap sebagai limbah, yaitu ikan Petek. Ikan yang seukuran ikan teri ini memiliki bau amis yang berlebih sehingga tidak diminati orang. Ikan ini lebih banyak dijadikan pakan ternak. Padahal bagi Aang, dibalik bau amis yang berlebih itu terdapat kandungan protein dan kalsium yang lebih besar dari ikan air tawar lainnya.

Dengan modal uang tabungannya sebesar Rp 2 juta, Aang mengolah ikan Patek menjadi crispy dengan merek  Crispy Ikan Sipetek. Kini dagangannya tersebut dinikmati oleh 70 kota di Indonesia bahkan sampai Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan dan Arab Saudi.

4. Andris Wijaya

(Foto; globeasia.com)

Andris merupakan seorang lulusan teknik mesin yang banting setir menjadi pebisnis sukses. Dilansir dari Kompas, ayahnya merupakan seorang penjual beras curah di Garut yang performanya sempat turun padahal Andris yakin bahwa beras Garut ini memiliki kualitas yang baik hingga ia selalu berupaya untuk tetap menjualnya. 

Akan tetapi, beras Garut ternyata belum cukup menjual saat itu sehingga ia malah menemukan inovasi untuk menjual produk dalam bentuk nasi liwet instan. Awalnya produk ini juga ditolak oleh toko-toko namun ia menggunakan strategi promo dengan memberi gratis ke beberapa pihak hingga akhirnya makin banyak yang tertarik dan permintaan akan produk ini makin melejit bahkan kini dijual sampai Amerika dan Dubai.

5. Nur Ali

(Foto: bayuwin.com)

Nur Ali beradal dari desa Geneng, kecamatan Marhomulyo, kabupaten Bojonegoro yang mayoritas warganya berkerja sebagai pencari kayu bakar. Berkali-kali mencoba bisnis, Nur Ali akhirnya berhasil menjadi pengusaha akar jati karena tak sengaja menemukan akar pohon jati erosi yang agak besar saat mencari kayu bakar.

Dari sanalah dia membawanya pulang dan memajangnya di teras rumah dengan maksud siapa tahu ada yang membelinya. Meski awalnya hanya laku Rp 65 ribu saja, namun kini bisnis jati Nur Ali berkembang dan sering melayani pemesanan dari Bali di mana nantinya produk itu akan diekspor ke Perancis dan Jerman.




Pengusaha dari desaPegusaha desa yang internasionalkisah pengusaha

Share to: