Elon Musk kembali menjadi sorotan publik setelah melontarkan sindiran terhadap rencana pembentukan Dewan Perdamaian yang digagas oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pernyataan tersebut disampaikan Musk melalui media sosial, dengan gaya khasnya yang satir namun mengandung kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri dan narasi perdamaian yang dinilai kontradiktif.
Dalam komentarnya, Musk menyinggung isu Greenland yang sempat mencuat saat Trump secara terbuka menyatakan ketertarikannya untuk membeli wilayah otonom Denmark tersebut. Musk menilai wacana tersebut mencerminkan pendekatan geopolitik yang lebih berorientasi pada ekspansi dan kepentingan strategis, ketimbang prinsip perdamaian global yang seharusnya diusung oleh sebuah dewan perdamaian.
Selain Greenland, Musk juga mengaitkan kritiknya dengan situasi Venezuela. Ia menyoroti sejarah ketegangan politik dan sanksi ekonomi yang melibatkan Amerika Serikat terhadap negara tersebut. Menurut Musk, kebijakan yang berujung pada tekanan ekonomi dan instabilitas sosial sulit dipadukan dengan klaim komitmen terhadap perdamaian internasional.
Sindiran Musk dinilai sebagai bentuk skeptisisme terhadap inisiatif politik yang menggunakan istilah “perdamaian” namun tidak disertai pendekatan diplomasi yang konsisten. Pernyataan tersebut memicu diskusi luas di kalangan publik dan pengamat politik, terutama mengenai batas antara retorika politik dan realitas kebijakan luar negeri.
Sebagai figur berpengaruh di bidang teknologi dan bisnis global, komentar Musk kerap memiliki dampak besar dalam membentuk opini publik. Meski tidak terlibat langsung dalam politik praktis, pandangannya kali ini kembali menegaskan posisinya sebagai pengamat kritis terhadap agenda geopolitik, khususnya ketika narasi perdamaian dinilai tidak sejalan dengan tindakan nyata.