Harga Bitcoin mengalami penurunan sekitar 6 persen di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Israel dan Iran. Eskalasi konflik yang memicu kekhawatiran pasar global membuat investor cenderung mengalihkan dana dari aset berisiko ke instrumen yang dianggap lebih aman. Kondisi ini langsung tercermin pada pergerakan pasar kripto yang bergerak fluktuatif dengan tekanan jual cukup kuat.
Penurunan Bitcoin turut diikuti oleh pelemahan sejumlah aset kripto utama lainnya. Sentimen negatif menyebar cepat di pasar, terutama setelah muncul laporan mengenai potensi perluasan konflik yang dapat berdampak pada stabilitas kawasan Timur Tengah. Investor global merespons situasi ini dengan pendekatan risk-off, yakni mengurangi eksposur terhadap aset berisiko tinggi.
Gejolak geopolitik memang kerap memengaruhi pergerakan aset digital. Meski Bitcoin sering disebut sebagai alternatif lindung nilai, pada kondisi krisis tertentu aset ini tetap menunjukkan volatilitas tinggi. Faktor psikologis pasar dan aksi ambil untung dalam waktu singkat juga memperparah tekanan harga.
Selain faktor eksternal, pergerakan likuidasi pada perdagangan berjangka kripto turut mempercepat penurunan harga. Ketika harga turun tajam, posisi leverage otomatis terlikuidasi, sehingga memicu efek domino yang memperdalam koreksi. Volume perdagangan pun meningkat signifikan dalam waktu singkat.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan situasi geopolitik serta respons kebijakan global. Jika ketegangan mereda, bukan tidak mungkin Bitcoin kembali menunjukkan pemulihan. Namun selama ketidakpastian masih tinggi, volatilitas diperkirakan tetap membayangi pasar kripto dalam jangka pendek.