Dari Mistika Lokal ke Tarot dan Zodiak:Apakah Gen Z Benar Benar Lebih Rasional?

Dari Mistika Lokal ke Tarot dan Zodiak:Apakah Gen Z Benar Benar Lebih Rasional?

Gambar kartu Tarot ( Foto: Dok.Istimewa )


Ada ironi yang makin jelas terlihat di ruang digital, khususnya di kalangan Gen Z yang kerap mengidentifikasi diri sebagai generasi paling rasional dan berpihak pada sains. Di satu sisi, mereka dengan cepat menertawakan dukun, kisah hantu lokal, dan kepercayaan tradisional sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman.

Namun di sisi lain, praktik seperti Tarot dan zodiak justru diterima dengan santai—bahkan dijadikan rujukan untuk memahami diri, emosi, dan arah hidup. Yang berubah tampaknya bukan pola pikirnya, melainkan hanya objek kepercayaannya.

Ketika unsur mistis datang dari tradisi lokal, ia dianggap sebagai bentuk kebodohan. Tetapi saat hadir dengan visual menarik, istilah psikologis, dan sentuhan budaya Barat, ia berubah menjadi sesuatu yang “reflektif” dan layak diterima.

Energi yang dibicarakan dukun dipandang sebagai tipu daya, sementara konsep “energi semesta” dalam Tarot terasa menenangkan. Weton ditertawakan, tetapi zodiak dianggap cukup masuk akal untuk menjelaskan kepribadian. Ini menunjukkan bahwa standar rasionalitas sering kali tidak konsisten—lebih dipengaruhi selera daripada prinsip.

Tarot dan zodiak kerap lolos dari kritik karena dibingkai sebagai hiburan cerdas. Padahal, secara logika, klaimnya tidak lebih teruji dibanding ramalan tradisional. Pernyataan yang umum dan fleksibel membuat siapa pun mudah merasa “terwakili”. Saat seseorang merasa bacaan itu akurat, yang bekerja bukan kekuatan kosmis, melainkan kecenderungan manusia untuk mencari pembenaran atas apa yang sudah diyakini. Ini adalah fenomena lama, tetapi sering kalah oleh rasa nyaman.

Yang lebih menarik, banyak orang bersembunyi di balik kalimat, “cuma seru-seruan.” Namun batas antara hiburan dan kepercayaan sering kali kabur. Zodiak mulai dipakai untuk membenarkan sifat, menilai kecocokan pasangan, hingga menjelaskan kegagalan. Tarot pun beralih fungsi, dari sekadar hiburan menjadi alat untuk meredakan kecemasan dan bahkan mengambil keputusan. Pada titik ini, perannya tak jauh berbeda dari praktik yang sebelumnya dikritik.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian Gen Z sebenarnya tidak meninggalkan pola pikir mistis, melainkan mengemasnya ulang agar sesuai dengan tren. Mistika lama ditolak bukan karena tidak logis, tetapi karena tidak lagi relevan secara estetika. Sebaliknya, mistika baru diterima karena selaras dengan budaya populer dan media sosial. Rasionalitas pun bergeser—bukan lagi sebagai prinsip berpikir, melainkan sekadar gaya.

Jika ingin benar-benar konsisten, sikap kritis seharusnya diarahkan juga pada hal-hal yang terasa dekat dan nyaman. Menertawakan kepercayaan lama sambil memeluk versi modernnya bukanlah kemajuan, melainkan bentuk inkonsistensi. Pada akhirnya, manusia memang selalu mencari makna. Namun kebutuhan itu tidak seharusnya membuat kita menerima sesuatu tanpa pengujian. Jika mistisisme ingin ditinggalkan, maka ia perlu ditinggalkan secara menyeluruh—bukan dipilih berdasarkan tren. Tanpa itu, kritik yang ada hanya akan menjadi ejekan tanpa kedalaman.




ZodiacTarotGen-Z

Share to:



Modal Video 01