Organisasi lingkungan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai Pulau Jawa dan Kalimantan berpotensi menjadi wilayah terdampak bencana ekologis jika tekanan terhadap lingkungan terus dibiarkan. Berbagai aktivitas eksploitasi sumber daya alam dinilai telah melampaui daya dukung ekosistem, sehingga meningkatkan risiko kerusakan lingkungan yang berdampak langsung pada masyarakat.
Di Pulau Jawa, Walhi menyoroti alih fungsi lahan yang masif, terutama untuk kawasan industri, permukiman, dan infrastruktur. Perubahan tersebut menyebabkan berkurangnya kawasan resapan air, meningkatnya risiko banjir, serta degradasi kualitas tanah dan air. Kondisi ini dinilai semakin diperparah oleh kepadatan penduduk yang tinggi dan lemahnya pengendalian tata ruang.
Sementara di Kalimantan, ancaman ekologis banyak berkaitan dengan aktivitas pertambangan, perkebunan skala besar, serta pembukaan hutan. Kerusakan hutan tidak hanya memicu banjir dan longsor, tetapi juga mempercepat krisis iklim serta mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat yang bergantung pada sumber daya alam.
Walhi menekankan bahwa bencana ekologis bukan semata peristiwa alam, melainkan dampak dari kebijakan pembangunan yang tidak berkelanjutan. Menurut organisasi tersebut, pengelolaan lingkungan yang mengabaikan aspek ekologis dan sosial berpotensi menimbulkan kerugian jangka panjang, baik secara ekonomi maupun kemanusiaan.
Sebagai langkah pencegahan, Walhi mendorong pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan tata ruang dan perizinan usaha. Perlindungan ekosistem, pemulihan lingkungan yang rusak, serta pelibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan dinilai penting untuk mengurangi risiko bencana ekologis di masa mendatang.
Share to:
Related Article
-
Dibalik Kecelakaan Tol Cipali KM 184 Tewaskan 8 Orang, Ada Misteri Kerajaan Jin
Update|August 11, 2020 00:10:00
