China mulai mendorong penggunaan robot dan kecerdasan buatan (AI) untuk menangani pekerjaan berisiko tinggi di sektor pertambangan batu bara.
Rencana tersebut masuk dalam Rencana Lima Tahun ke-15 China untuk periode 2026–2030. Pemerintah menargetkan penerapan teknologi AI tidak hanya untuk produksi, tetapi juga eksplorasi, pemeliharaan hingga sistem keselamatan tambang.
Robot nantinya diprioritaskan untuk pekerjaan yang dinilai terlalu berbahaya bagi manusia, seperti pembuatan terowongan, inspeksi area tambang, operasi penyelamatan, pemasangan penyangga hingga pekerjaan yang berkaitan dengan peledakan.
Langkah ini terutama diarahkan ke tambang yang memiliki risiko bencana tinggi atau pernah mengalami kecelakaan besar. China juga berencana membangun sejumlah tambang percontohan yang menggunakan AI secara terintegrasi untuk meningkatkan keselamatan kerja.
Pengembangan teknologi tersebut bukan sekadar rencana. Sejumlah perusahaan teknologi China telah menguji robot untuk kebutuhan pertambangan.
DEEP Robotics, misalnya, mengembangkan robot berkaki empat untuk melakukan inspeksi dan membantu operasi penyelamatan di area tambang. Sementara itu, Lingbao CASBOT juga mengembangkan robot untuk mendukung pekerjaan bawah tanah seperti pengeboran batuan, pemasangan bahan peledak, dan penyangga tambang.
Dengan perkembangan tersebut, otomatisasi pertambangan di China mulai diarahkan dari tahap uji coba menuju penggunaan dalam skala yang lebih luas. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan efisiensi, tetapi juga mengurangi jumlah pekerja yang harus berhadapan langsung dengan kondisi tambang yang berbahaya.
Share to:
Related Article
-
Biodata Abimana Aryasatya Lengkap Agama dan Umur, Aktor yang Putuskan Jadi Mualaf dan Ganti Nama
Update|May 05, 2021 12:29:48
