Kisah Wanita Prancis yang Temukan Indahnya Islam Setelah Orang Tua Jadi Ateis

Kisah Wanita Prancis yang Temukan Indahnya Islam Setelah Orang Tua Jadi Ateis

Foto

Seorang wanita asal Prancis bernama Maria yang menemukan indahnya ISlam (Foto: dok. Instagram)


Seorang wanita asal Prancis ini mulai menemukan indahnya Islam sejak usianya masih sangat muda.

Diumur 14 tahun, wanita yang bernama Maria ini resmi memeluk agama Islam. Meskipun orangtuanya seorang ateis, hal tersebut tak menjadi penghambat Maria dalam melakukan pencarian hingga jatuh hati dengan agama Islam.

Sebelumnya, orangtua Maria beragama Katolik, namun mereka meninggalkan agama tersebut saat usianya 12 tahun.

"Ketika masih kecil, orangtuaku beragama Katolik sehingga mereka mendidik aku sebagai seorang Katolik sampai aku berusia 12 tahun. Ketika mereka meninggalkan agama Katolik dan menjadi ateis, adik-adikku mengikuti kepercayaan kedua orangtua, akan tetapi aku masih bingung," katanya seperti dikutip dari laman media online pada Kamis, 30 April 2020.

Ditengah kebimbangannya akan kepercayaan, tak lama kemudian dia menemukan tetangganya baru saja memeluk agama Islam.

"Beberapa bulan kemudian aku menemukan tetanggaku yang baru memeluk agama Islam," lanjutnya.

Dia menjelaskan bahwa dia menemukan agama Islam setelah berusia 12 atau 13 tahun. 

"Dua hal yang menarik bagiku tentang agama Islam adalah perspektif Islam tentang rasa hormat dan (keluarga) cinta, dan pertimbangan perempuan dalam Islam terutama melalui sosok Maria, ibu Yesus (aku kemudian menemukan banyak perempuan penting lainnya dalam Islam)," jelasnya.

Seelah menemukan Indahnya islam, dia mulai belajar tentang dasar-dasar islam mulai dari salam, whudu hingga membaca Al-Quran.

"Lalu aku belajar tentang dasar-dasar Islam sehari-hari (salam, wudhu, makanan, dan lainnya). Dan saat aku mulai membaca Al Quran, aku menemukan bahwa Islam menyangkut di semua bidang kehidupan (sejarah, filsafat, linguistik, ilmu pengetahuan, kedokteran, dan lain-lain)."

Wanita berusia 24 tahun itu merasa semakin dia belajar tentang Islam, keingintahuannya pun semakin besar. Dan dia takjun karena Islam selalu memberikan solusi untuk pertanyaannya.

"Yang membuat aku selalu terkesan itu Islam adalah solusinya. Terutama karena solusi itu tidak terlalu jauh, tapi rasional. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengucapkan syahadat dan mengikuti salat untuk pertama kalinya beberapa minggu sebelum aku berusia 15 tahun," kisah Maria yang kuliah di University of Burgundy, Dijon, Prancis.

Meskipun awalnya orangtuanya memberikan respon negatif karena stigma buruk Islam di Prancis, Maria sangat bersyukur mereka akhirnya mendukung keputusannya tersebut.

Kesulitan pertama sebagai mualaf adalah menghadapi penghakiman keluarga da juga salah satu masyarakat, yang menganggap Islam sebagai agama yang berbahaya. Sampai akhirnya keluargaku menerima siapa aku yang sebenarnya, meskipun masih ada beberapa ketakutan didasarkan pada definisi mereka terhadap Islam," terangnya.

Sebelum pindah tinggal di Bandung, Maria mengaku pernah endapatkan perlakuan kurang menyenangkan di Prancis. Beberapa temannya pun mengatakan padanya bahwa sulit menjadi seorang wanita muslim di Prancis.

"Islam adalah agama yang ditentang di Prancis (dan di Barat pada umumnya). Jadi aku ingin segera belajar dan tinggal lalu bekerja di luar negeri, untuk menemukan tempat di mana aku akan bebas untuk menjadi muslim dan dihormati sebagai seorang wanita (atau bahkan menjadi seorang manusia, seperti orang lain)," jelasnya.

Akhirnya dia datang ke Indonesia, tepatknya kota Bandung pada tahun 2019. Keputusannya untuk tinggal di Indonesia ini juga didukung kedua orangtuanya.

"Orangtuaku saat ini membantuku secara finansial untuk melakukan perjalanan dan tinggal di Indonesia, mengetahui kesulitanku untuk hidup di Prancis sebagai seorang muslim. Bahkan jika mereka tidak percaya dalam Islam, aku berpikir mereka memilih untuk percaya pada keputusanku dan mendukung penuh, Alhamdulillah," ucap Maria penuh syukur.




Maria MuslimKisah Wanita PrancisKisah Mualaf

Share to: