Kisah Tanah Jawa memberikan penjelasan tentang berita heboh penyebaran teror wafer berisi silet yang mengincar anak-anak di Jember, Jawa Timur beberapa waktu yang lalu. Benarkan digunakan sebagai sarana penolak bala?
Kabar ini sempat meresahkan banyak orang, pasalnya penyebaran teror ini mengincar anak-anak secara acak yang tidak dikenal oleh pelaku.
Dalam wafer yang terlihat enak ini, berisi potongan silet, cutter dan juga staples gaes!
Baca Juga: Hypersex Sehari Berapa Kali? Ini Jawaban Dr Boyke Gaes
Bukan sekali, warga bahkan melaporkan bahwa hal ini sudah ditemukan sebanyak dua kali. Pelaku melempar 3 bungkus wafer ke halaman rumah orang-orang secara acak, jika bocah-bocah menolak untuk diberikan.
Pelaku mengaku Melakukan Hal Tersebut Untuk Menolak Bala
Dalam keterangan Polisi, pelaku mengaku melakukan hal tersebut untuk menioak bala wabah. Sejauh ini, masih dikonfirmasi wabah apa yang dimaksud pelaku.
Sementara Polisi menduga bahwa pelaku melakukan hal tersebut untuk menolak bala wabah pandemi COVID-19 saat ini.
Penjelasan Oh Hao Kisah Tanah Jawa Tentang Wafer Silet Penolak Bala
Bagi On Hao, Ruwatan atau kegiatan menolak bala tersebut memang sudah menjadi tradisi sejak jaman dahulu.
Tak hanya untuk menolak bala, kegiatan ini juga biasa dilakukan untuk menyelamatkan seseorang hingga membersihkan seseorang.
"Hasil ruwatan juga melebar, Ruwat tidak hanya ke orang tapi juga ke benda, tanah, bangunan, pohon dan macam-macam. Jalan bahkan," kata Om Hao.
Baca Juga: Fakta dan Profil Opay Popeye, Kembaran Wendi Cagur yang Viral Diundang Trans TV Gaes
Baginya, kegiatan pelaku yang memasukkan silet ke dalam wafer dan mengincar anak-anak ini butuh pengajian lebih dalam motif dan tujuannya. Pasalnya, Ruwatan yang diketahui selama ini selalu berujung positif dan tidak mencelakakan orang lain.
"Buang sial dengan cara seperti itu, tidak disebut dengan ruwat. Tetapi bisa jadi ada sesuatu yang dikorbankan," lanjutnya.
Penjelasan Kegiatan Ruwat Versi Om Hao
Sementara itu, Om Hao menjelaskan apa saja kejadian yang mungkin memerlukan tradisi atau kegiatan ruwat.
Salah satunya adalah ketika seorang anak saat masih kecil sering rewel atau sakit-sakitan baik secara medis maupun non medis.
"Biasanya ruwatnya macam-macam. Ada yang di potong rambut, ada yang permintaannya apa pas ulang tahun di turuti, terus ada yang diselamatin (acara selamatan dengan makanan), ada lagi yang ganti nama," ungkap Om Hao.
Sayangnya banyak yang menggunakan kegiatan ini untuk hal-hal negatif. Salah satunya adalah mencari harta, meminta ilmu hitam hingga memikat lawan jenis dengan datang ke orang 'pintar'.
"Untuk mengantarkan hal ini (kesialan), perlu media. Biasanya biar berpindah (sialnya) ke orang lain," jelas Om Hao.
Om Hao menjelaskan bahwa energi negatif tersebut dipindahkan ke suatu tempat yang akhirnya diambil orang lain sehingga pindah ke orang yang gak bersangkutan tersebut.
Baca Juga: Fakta dan Profil Gilang Pratama aka Etama Etayo, Youtuber yang Sering Challenge Makan Aneh Gaes
Cara memindahkannya bisa melalui sebuah benda, makanan, garam hingga air lho!
"Makanya orang dulu bilang: nanti kalau nemu uang di jalan jangan di ambil, nanti duguna-guna, atau diludahi, dikencingin," ucapnya.
Apalagi jika kita menemukan barang berharga yang aneh di jalanan, tempat sepi atau di tengah hutan.
Nah, itu dia penjelasan tentang Ruwatan versi Om Hao yang menyoroti kegiatan teror wafer silet yang terjadi di Jember, Jawa Timur.
Share to:
Related Article
-
Kekeyi Nangis Histeris Hingga Sujud di Depan Ibunya saat Syuting Bareng Nikita Mirzani, Ini Alasannya!
Kekeyi Rahmawati|September 16, 2020 12:43:28