Seorang Imam Sulap Masjid di Turki Ini Menjadi "Supermarket Amal" Selama Masa Pandemi

Seorang Imam Sulap Masjid di Turki Ini Menjadi "Supermarket Amal" Selama Masa Pandemi

Foto

(Foto: english.alaraby.co.uk)


Dimasa pandemi, kebanyakan orang mengikuti peraturan dari pemerintah untuk melakukan segala sesuatunya di rumah saja. Salah satunya adalah beribadah di rumah.

Cerita lain datang dari Turki.

Di pintu masuk masjid Istanbul, Turki rak-rak yang biasanya diperuntukkan bagi sepatu kaum beriman penuh dengan paket pasta, botol minyak, biskuit - seperti supermarket.

Tetapi mereka tidak untuk dijual! Sebaliknya, makanan tersebut siberikan untuk yang membutuhkan selama pandemi virus corona.

Tanda di jendela masjid meminta siapa pun yang berkecukupan meninggalkan sesuatu untuk dibagikan. Tak hanya itu, juga tertulis bagi mereka yang membutuhkan bisa mengambil sesuatu.

Abdulsamet Cakir, imam masjid Dedeman di distrik Sariyer adalah yang mengemukakan gagasan ini.

Dia melakukan hal tersebut untuk menjangkau kaum miskin melalui tempat ibadah setelah Turki menghentikan sholat massal di masjid-masjid hingga risiko wabah hilang.

"Setelah penangguhan sholat massal, saya punya ide untuk menghidupkan kembali masjid kami dengan menyatukan orang-orang kaya dengan orang-orang yang membutuhkan," kata Cakir kepada AFP di dalam masjid.

Disana terlihat setumpuk tas makanan dan produk pembersih berjejer di lantai.

Imam muda, yang mengambil produk dari para penyumbang dan meletakkannya di rak-rak di pintu masuk. Imam berusia 33 tahun itu mengatakan bahwa dia terinspirasi oleh budaya sumbangan pada periode Ottoman yang disebut "batu amal".

Batu amal adalah sebuah batu pilar kecil yang didirikan di lokasi-lokasi tertentu di kota untuk menghubungkan orang kaya dengan orang miskin di situasi yang sulit

Dalam sistem Utsmani ini bertujuan memberi amal dengan cara yang bermartabat tanpa menyinggung yang membutuhkan. Orang yang berkecukupan akan meninggalkan sumbangan dalam jumlah berapa pun di atas batu amal.

Sedangkan mereka yang membutuhkan kemudian akan mengambil jumlah yang mereka butuhkan dan meninggalkan sisanya untuk orang lain.

"Setelah pandemi coronavirus, kami telah memikirkan apa yang bisa kami lakukan untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan," kata Cakir, yang sudah membantu orang miskin di lingkungannya sebelum wabah.

Cakir menggantung sebuah daftar di dinding masjid untuk warga yang membutuhkan bantuan menuliskan nama dan nomor telepon mereka.

Imam itu kemudian mengirimkan daftar itu ke pihak berwenang setempat yang memeriksa apakah nama-nama itu benar-benar membutuhkan. Mereka dapat menerima apa pun yang mereka butuhkan dengan maksimal delapan item.

Sebagai protokol social distancing, hanya diperblehkan maksimal dua orang yang memakai masker dan sarung tangan yang memasuki masjid. Sementara yang lain menunggu di luar, berdiri beberapa langkah satu sama lain.

Masjid tidak menerima donasi tunai dan sebaliknya menerima paket bantuan.

"Produsen juga menyumbang. Seorang tukang giling membawa tepung, tukang roti membawa roti, distributor air membawa air," kata Cakir.

Rak-rak masjid penuh dengan produk yang dikirim dari seluruh Turki dan bahkan luar negeri.




Mesjid Istambulmesjud menjadi supermarket AmalTurkiRamadan di Turki

Share to: